MAHASISWA DALAM EKSISTENSINYA
Tulisan ini ditulis pada tahun2017 ketika penulis masih bergelut didunia kemahasiswaan.
Hanya sebuah opini.
Satu kata yang memenuhi kepala saya saat ini. Berputar-putar dalam ingatan, membuatku bertanya-tanya banyak hal tentangnya. Satu kata yang membuatku sekeptis dengan diri saya saat ini, “Mahasiswa”. Sebuah gelar yang sering disematkan padaku dan saudara-saudarku yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Saya akan mencoba menuangkan sedikit yang menjanggal dipikiran.
Mahasiswa, entah harus bangga atau bagimana dengan gelar ini. Ada banyak kewajiban, tanggung jawab. Kadang aku tak merasa pantas disebut mahasiswa. Saya dituntut untuk menjadi cerdas seiring gelarku yang di identikkan sebagai kaum intelek. Saya dicekoki ilmu-ilmu agar menjadi cerdas. Setelah cerdas, pikiran saya mulai terbuka, saya mulai peka dengan kitimpangan-ketimpangan yang ada didepan saya. Ketika ingin berteriak, mulutku harus bungkam karena ancaman IPK bahkan ancaman DO. Disitu kadang saya merasa lucu, perguruan tinggi sebagai wadah untuk menciptakan orang orang-orang cerdas yang mampu menyumbangkan pemikiran terhadap bangsa dan negara, justru seringkali menjadi barisan terdepan dalam membungkan suara-suara dan sumbangsi pemikran Mahasiswa. Mereka anggap itu sebagai sebuah ancaman . sunggu aneh, mereka yang mendidik kami agar pintar justru tak suka ketika kami mengaplikasikan kecerdasan kami dalam sebuah kritikan-kritikan agar tercipta suasana yang lebih baik.
(hanya ilustrasi)
Sedikit mengutip perkataan dari salah satu dosen saya “Mahasiswa tak harus demonstrasi, itu sia sia." Kenapa kemudian kita selalu berpandangan bahwa mahasiswa yang demonstrasi itu salah. Ketika kita melihat eseansi sebenarnya dari demonstrasi. Sebenarnya demonstrasi memiliki tujuan yang baik, yaitu menyampaikan aspirasi masyarakat.. lantas kenapa masih ada masyarakat yang berpandangan bahwa demosntrasi adalah sesuatu yang tidak bermanfaat dan sering merugikan masyarakat. Kembali ke substansi dari sebuah demonstrasi yaitu demi kepentingan rakyat. Lantas kenapa hal ini bisa terjadi?
Kemunduran pergerakan mahasiswa dan tak mampunya masyarakat diberbagai element melawan arus teknologi, menjadi Faktor utama pandangan pandangan ini. Mahasiswa yang seolah terbuai dengan cerita pendahulu, bukan bermaksud medeskreditkan pergerakan mahasiswa dewasa ini. tapi kekakuaan dalam pola kaderisasi mahasiswa itu sendiri justru mengakibatkan , kurangnya kesadaran atas tanggung jawab yang diemban mahasiswa mahasiswa itu sendiri. Ketidak mampuan beradaftasi dengan teknologi, mahasiswa seolah terseret dan tenggelam dalam arus teknologi itu. Menyebabkan hilangnya budaya litersasi dalam dunia kampus. Mebaca, menulis dan diskusi adalah penopang lahirnya jiwa jiwa kritis dalam dunia kampus Yang kiang hari kian tergerus. Ditambah lagi dengan tugas-tugas kampus yang begitu padat semakin membuat mahasiswa hari ini terlena dan abai terhadap fungsi dan perannya sebagai kaum intelektual.
Dalam hemat penulis secara dangkal. Maka dirasa perlunya ada rekonstruksi pola dan sendi pengkaderan , baik itu secara formal maupun nonformal. Budaya literasi yang menjadi tiang utama dalam mengasah pisau analitis mahasiswa. Mengesampingkan egosentris poliTik kampus golongan yang kadang mengorbangkan mahasiswa mahasiswa potensial. Seharusnya Bukan lagi menggunankan pendekatan asal kakanda senang, tapi asal adinda senang rasanya lebih cocok dengan perkembangan zaman sekarang dengan perkembangan pola dan krakter manusia yang banyak dipengaruhi oleh arus globalisasi.








Comments
Post a Comment