Kenapa Naik Gunung?




"Kenapa suka naik gunung?". Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ini. Setelah beberapa perjalanan yang saya lakukan. Saya akan berbagi cerita bagaimana awalnya naik gunung dan kenapa bisa mengulang sampai beberapa kali.

Pendakian pertama yang saya lakukan yaitu pada tahun 2017 di MT. Bawakaraeng. Yang saya pikirkan pertama kali waktu itu ketika diajak "saya bisa atau tidak?", banyak ketakutan-ketakutan yang muncul seperti hipotermia, cedera,tersesat dan lain-lain. Ditambah lagi banyak cerita pendaki yang meninggal. Setelah melalui perenungan secara matang, sayapun memutuskan ikut.

Perjalananpun dimulai, seperti yang saya pikirkan. Naik gunung itu memang melelahkan, bahkan sempat terbesik dipikiran saya "ini adalah kegiatan yang membodohi diri sendiri, bikin capek, menyiksa diri sendiri. Kan lebih enak rebahan dikamar." Bahkan waktu itu saya berpikiran akan meninggal karena dada sakit dan susah bernafas, tapi untungnya tidak terlalu parah. Dan akhirya bisa sampai di puncak, seperti yang orang katakan. Pemandangannya memang indah. Tapi, Untuk hanya sekedar foto-foto kita harus mengorbangkan kenyaman kita. Saya rasa hal yang sangat tidak sepadan.

Setelah beberapa bulan setelahnya. Ternyata ada rasa ingin kembali melakukannya. Entah kenapa saya kembali, sampai saya melakukannya beberapa kali di beberapa tempat yang bebeda. Ya seperti itulah naik gunung, kalian akan menyesal di perjalan pergi dan pulang. Tapi setelah pulang, kalian akan membawa rindunya dan selalu inigin kembali.

Di setiap perjalan saya menyadiri. Saya menemukan hal hal yang membuat saya senang. Suasana hening dan sejuk. bunyi bunyi serangga hutan. Hujan yang menguyur di tengah jalan. Kabut kabut yang kadang bikin kesal. Suasana matahari terbit dan tenggelam. air yang segar dari mata air, lebih segar dari aqua sekalipun. Cuaca Dingin menusuk. Makanan yang kadang tidak matang namun tetap saja enak, karena lapar. Sesekali Menertawai dan mehina teman yang kelelahan di perjalanan. Leader yang sukanya bilang "sudah dekat" padahal masih sangat jauh. Melihat wajah wajah lelah yang seketika begitu sumringah, berteriak, melompat dll karena berhasil sampai puncak. Bertemu orang orang baru di perjalan, saling memberi semangat "semangat bang, hati hati bang" padahal kita tidak saling kenal. Itulah suasana keakraban yang alami tanpa memandang suku, agama dan ras, yang mungkin sulit kamu jumpai dikota atau di tempat tinggalmu. Hal hal sesederhana seperti inilah yang mungkin membuat orang ketagihan naik gunung, diluar dari bonus pemandangan yang indah diatas sana. Hal hal yang sebagian orang hanya bisa temui saat mendaki gunung. Ada sebagian orang yang merasa mendapatkan pelajaran disetiap perjalanan mendaki gunung, mereka menemukan diri mereka sendiri digunung tanpa harus munafik. Saya hanya mencoba menafsirkan pemikiran mereka-mereka yang ketagihan. Dan saya rekomendasikan untuk kalian kalian yang mungkin sedang agak melangkolis dan galau, mendaki gunung mungkin akan menjadi pelarian yang menyenakan.

Jika ingin membuktikan nya, silahkan anda coba sendiri. Satu pesan saya jangan biarkan ketakutan mendominasi pikiran anda, karena akan menghilangkan akal sehat anda. Karena mendaki bukan hanya sekedar fisik tapi butuh mental. Seperti yang saya alami pada pendakian pertama, saya terlalu takut. Sehingga saya lupa, pernah belajar mamjemen perjalanan, PPAT, Petolongan Pertama, navigasi, survival yang kesemuanya seharusnya tidak perlu membuat saya takut.

Dan untuk yang pertama kali ingin mencoba. jangan melakukannya sendiri tanpa didampingi orang yang setidaknya berpengalaman. Yang terpenting tetap patuhi kode etik dia alam bebas :

Jangan menbunuh sesuatu kecuali waktu.

Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar.

Dan jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak.



Salam Lestari..!

Comments

Popular Posts