Bicara Pendidikan (Opini)


pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan secara sistematis dalam mewujudkan suasana belajar-mengajar agar para peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya. Menurut Ki Hajar Dewantara,  pendidikan adalah suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya ialah bahwa pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya. Sedangkan menurut plato, Pendidikan adalah sesuatu yang dapat membantu perkembangan individu dari jasmani dan akal dengan sesuatu yang dapat memungkinkan tercapainya sebuah kesempurnaan. Jadi pendidikan secar a sederhana dapat disimpulkan sebagai suatu proses  pengembangan potensi diri.

Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan setiap individu,bahkan berbangsa dan bernegara.  Sebagaimana pendapat para ahli diatas pendidikan menjadi suatu peroses untuk penegembangan potensi diri manusia baik jasmani maupun rohani.  Dimana dalam perkembangan teori teori tentang pendidikan secara umum pendidikan memiliki beberapa asfek yang ingin dicapai yaitu asfek kognitif, psikomotorik dan afektif.  Asfek asfek tersebut idealnya harus ditanamkan dalam penerapannya. Pendidikan menjadi hal yang sangat penting dalam suatu negara, sebagaimana yang dikatakan oleh Nelson Mandela “pendidikan menjadi senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”. Pentingnya pendidikan dituangkan dalam  UUD 1945 yaitu negara berkewajiaban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.   Dalam undang undang tersebut  pedidikan indonesia  bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan menjadi hak setiap warga negara tampa terkecuali. Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Negara harus menjadi fasilitator untuk tepenuhinya hak tersebut. Yang kemudian menjadi pertanyaan, sudahkah negara memenuhi hal tersebut?. Masih sering kita temui masih banyak kemudian anak yang putus sekolah, masih banyak  anak yang tidak mampu melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi, dan sering kita temui beberpa diantaranya harus putus kuliah ditengah jalan. Alasannya satu, ketidak mampuan ekonomi. Lantas Dimana kemuadian peran negara dalam hal ini pemerintah?  Bukankah pemerintah harus memastikan hak hak kita sebagai warga negara  terpenuhi .

Pendidikan kita sedang tidak baik baik saja, sistem  pendidkan yang diciptakan pemerintah,  yang  katanya akan menjadikan pendidikan kita lebih baik. Justu tak menggambarkan hal tersebut. Pergantian kurikulum yang takpernah jelas arah dan penerapannya antara KTSP atau K13. Dimana guru guru kita banyak yang kesulitan dalam penguasaan dan penerapan kurikulum baru yang terkesan tidak siap, alhasil tujuan yang ingin dicapai pun tentunya takmaksimal. Seringnya kita temui keriminalisasi terhadap oknum guru yang kemudian mehasilkan pro dan kontra. Undang undang perlindungan anak seolah menjadi senjata yang menakutkan bagi tenaga pendidik kita. Siswa kemudia tak ayal semena mena terhadap guru dan mengabaikan etika, karena mengandalkan undang undang perlindungan anak yang melindungi mereka. Belum lekan di ingatan kita bagaiman kemudian seorang guru dikeroyok oleh siswanya sendidri. Permasalahan lain juga sering kita temui yaitu maraknya terjadi pelecehan terhadap siswa yang dilakukan oleh oknum oknum guru yang tidak bermoral. Pendidikan berbasis karakter  yang katanya bekarakter hanya sekedar selogan saja manis didengar tapi pahit dan piluh dalam realitasnya. siapa yang harus disalahkan?

Selanjutnya terkait dengan sarana dan prasaranya, ditahun 2018 diperkirakan ada lebih dari 200.000 ruang kelas di sekolah seluruh Indonesia yang kondisinya rusak, mulai dari rusak sedang hingga berat. Padahal anggaran pendidikan  mencapai Rp 440 triliun untuk memberikan ruang belajar yang baik. 
Sistem pembagian  dana  untuk sekolah yang kemudian tidak merata menjadikan ketimpang antara yang satu dengan yang lain. Dimana besaran dana ditentukan oleh seberapah banyak siswa dalam satu sekolah. semakin banyak siswa semakin banyak pula dana yang diterima. Tentunya kita pahami bersama sekolah yang biasanya memiki siswa yang banyak adalah sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang lebih baik dari yang lain, dan biasa kita temui didaerah perkotaan.

Tak hanya berhenti pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan atas. Polemik juga terjadi pada jenjang pendidikan tinggi. Tak semua orang bisa mencicipi yang namanya perguruan tinggi, dikarenakan biaya yang mahal. Dari beberapa data UKT dibeberapa perguruan tinggi negeri, biaya kuliah yang harus dibayarkan persemesternya oleh seorang mahasiswa bisa mencapai puluhan juta rupiah. Sistem perguruan tinggi negeri yang kemudian di ciptakan pemerintah dewasa ini terkesan mendorong hadirnya komersialisasi perguruan tinggi. Pendidikan seolah menjadi barang dangan dalam perusahan yang disebut Perguruan tinggi negeri. Pendidikan yang menjadi hak kita sebagai warga negara justru harus kita beli dengan harga mahal. Apakah pantas jika pendidikan dijadikan barang dagangan? Lagi lagi sistem mendorong terjadinya hal tersebut.

Penutup, Koruptor dan penjahat  akan selalu ada jika sistem dan penerapan pendidikannya tak benar.

Selamat hari pendidikan.

Ini hanya  pemikiran kecil dari saya, jika ada yang salah mohon dikoreksi.
Mudah mudahan bukanji hoax yang kutulis .


Kritik dan saran sangat dibutuhkan

Comments

  1. Kritik pak, bukan keritik�� btw bukanji hoax yg Anda tulis, realita

    ReplyDelete
  2. Kritik pak, bukan keritik�� btw bukanji hoax yg Anda tulis, realita

    ReplyDelete
  3. Lucky Club Casino Site & Apps for Android and iOS - Lucky Club
    The first mobile app, Lucky Club, was launched luckyclub.live on the mobile market in 2004. They have since grown to include slots, live games, and table games.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts