Aku Malas

     Sebagai seorang pelajar entah itu siswa ataupun mahasiswa. Dalam prosesnya kita sering dituntut untuk banyak mencatat dikertas. Ketika  kita tidak mencatat adalah suatu hal yang lumrah jika guru atau dosen kita dan bahkan teman-teman kita  me'lebeli kita dengan kata malas. Yang  ujung ujung  bisa berdampak pada penilaian akademik kita. Mencatat dalam sistem pendidikan kita, sudah membudaya dan dianggap sesuatu yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. Malas mencatat menjadikanmu orang asing dalam kelasmu. Karena hanya sebagian kecil saja yang malas mencatat. Mencatat menjadikanmu terlihat rajin. Mencatat yang di maksud disini adalah menulis tangan.
  Yang perlu dipahami adalah  mencatat bukan patokan keberhasilan dalam belajar. Yang terpenting adalah sejauh mana pemahaman terhadap pelajaran. Bukan seberapa banyak yang kamu catat. Jadi untuk apa mencatat, jika sudah paham?. Bukan bermaksud memdeskreditkan proses menulis. Saya masih percaya  mencatat masih menjadi kegiatan yang penting dalam proses pendidikan.  Yang  saya tak paham adalah peroses pendidikan kita hari ini. Katanya kita sedang berada di era Teknologi yang sekarang populer dengan  era industri 4.0.  Dimana pengguna teknologi berbasis digital diharapkan dapat memasuki berbagai  aspek, termasuk pendidikan.
     Hal tersebut kemudian memuculkan banyak pertanyaan. Kenapa kemudian harus mencatat di buku jika ada  laptop dan gadget? Kenapa harus mencetak tugas tugas, jika ada yang namanya e learning?  Bukankah teknologi hadir untuk mempermudah? Kenapa masih harus mempersulit diri?. Mungkin saja karena pendidikan kita belum siap untuk itu. Setidaknya   laptop / gadgetmu  masih benguna untuk menonton drama korea dan main game, setidaknya masih berguna daripada hanya menjadi pajangan yang kau gunakan sekali semester😂, harganya mahal untuk sekedar jadi pajangan.
      Dengan hadirnya teknologi digital dalam kehidupan manusia.  yang kemudian ada dipikiran saya  adalah kita tak perlu lagi mencatat di buku atau kertas, karena sudah ada teknologi pengganti yang lebih efisien. Penggunaan kertas akan diminimalisir, sampai akhirnya tak perlu lagi menebang pohon untuk memproduksi kertas 😅. berapa banyak pohon yang harus  ditebang untuk memenuhi kebutuhan menulis tangan para pelajar tiap tahunnya?😥          
       Kadang saya hanya merasa aneh,  saya banyak  menemukan teman teman mahasiswa yang memiliki laptop bahkan hampir semua sudah memilikinya. Tapi dalam praktiknya di dunia kampus, pemanfaatan teknologi sering terabaikan. Kita masih harus print tugas, yang lebih parah adalah masih sering ditemui tugas tulis tangan😂. Bukankah kita sering mendengar kata-kata dari guru-guru atau dosen kita, kalau kita harus berbasis IT agar tak tergerus zaman. Lantas mengapa masih harus menyuruh dan meberi kami tugas menulis tangan? 
      Harap jangan tersinggung. Tulisan ini hanya pikiran saya yang malas menulis, yang laptopnya hilang beberapa kali dan sangat jarang digunakan untuk kepentingan akademik padahal niat membelinya untuk mempermudah dalam belajar 😂, serta sedikit kepedulian saya dengan pohon pohon dibumi.

Terimakasih
Saran dan kritik dibutuhkan.

Comments

Popular Posts