Aku Benci Disebut pendaki
Selamat subuh, sedikit berbagi keresahan. Mungkin karena sering ditanya “anak PA?’ “suda berapa gunung yang di daki?” “ bukan anak PA kalau belum mendaki”. Haruskah seperti itu?. Saya akan mencoba sedikit menulis ketidak sepakatan saya. Bukan bermaksud melarang atau anti pendakian. Tapi ini adalah realita-realita yang bisa kita liat terjadi.
Pendakian merupakan salah-satu kegiatan yang banyak digemari saat ini. Bagaimana tidak?, mendaki dianggap sebagai kegiatan positif yang menyegarkan, menyehatkan dan juga tentunya dapat menghasilkan uang bagi mereka yang tau caranya tentunya. Meski tak jarang kegiatan yang digolongkan olahraga Alam ini menelan korban jiwa. Seperti yang sering kita lihat dimedia cetak maupun elektronik bahkan disosial media. Terlepas dari itu, nyatanya olahraga ini masih digandrungi generasi jaman now.
Tak dapat dipungkiri mendaki sudah menjadi trend. Yang dilakukan dengan tujuan yang berbeda-beda dari masing-masing individu baik itu yang berlatar belakang PA maupun bukan PA. Bagi penyuka tantangan maupun yang hanya sekedar mencoba, bagi yang hobby maupun yang hanya ingin berfoto ria. Tak jarang orang rela menghabiskan uang, menempuh jarak yang jauh hanya untuk berfoto di puncak yang kemudian ingin dipamerkannya di media sosial. Dan tak jarang dari mereka tak memetik pelajaran apapun dari mendaki gunung selain foto-foto keren yang mereka bangga-banggakan.
Kita tentu tak bisa mengelak dan perlu kita sadari bersama bahwa, semakin banyak penjelajahan atau pendakian dilakukan maka akan semakin besar kemungkinan kita menyebabkan gangguan ekosistem di kawasan tersebut. Banyak kemudian diantara kita yang mengabaikan hal ini. Hanya karena ingin disebut kekinian dengan deretan foto-foto keren yang tujuannya tidak lain untuk di pamer di media sosial. Demi sebuah like kita relah pergi sangat jauh, bahkan mempertaruhkan nyawa sendiri demi sebuah pencitraan di media sosial, dengan caption-caption yang dirangkai sedemikian rupa. Menegaskan seolah merekalah orang paling bijak, merekalah orang yang paling menghargai karunia Tuhan. Mengaku pencinta alam?, untuk apa kau lakukan semua itu?, apakah niat mu sudah benar?.
Nyatanya adalah di banyak jalur-jalur pendakian kita dengan sangat mudah menemukan sampah. Sampah siapa?, ya sampah siapa lagi. Ini adalah wujud kecintaan mereka, dengan membawa oleh-oleh berupa sampah ke gunung yang di cintainya. Saking cintanya bahkan mereka harus menggores nama mereka di pohon dan batu-batu cadas. Ya inilah wujud kecintaan tamu-tamu alam yang katanya mencintai dan mensyukuri. Mencintai dengan meninggalkan goresan-goresan namanya. Mensyukuri dengan membawakan ole-ole dari kota (SAMPAH). Selamat untuk kalian yang sudah menjadi pecinta, sungguh aku tak bisa menjadi pecinta seperti kalian. Aku benci di sebut Pendaki karena tak mampu seperti kalian.
Sadarkah kalian?,apakah benar kalian adalah tamu yang diharapkan? Atau hanya sekedar tamu tak di undang. Seperti halnya dalam cinta, jika tak saling mengharapkan maka akan berujung luka. Apakah kalian sudah menjadi pendaki-pendaki yang diharapkan, atau hanya sebagai tamu yang merusak keseimbangan sebuah ekosistem yang menjadi penyangga hidup kita. Benar benar suatu kerugian mengorbankan penyangga kehidupan kita hanya untuk sekedar berfoto dan pencitraan.
Sangat berbahaya tentunya jika hal seperti ini terus di biarkan, kerusakan ekosistem tentunya akan berpengaruh pada kehidupan manusia. Sudah tentu ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga keseimbangan ekosistem kita. Tak pernah ada larangan untuk mendaki. Tapi yang harus di ingat adalah, sesuatu yang di lakukan secara berlebihan dan tidak beretika tentunya akan menghasilkan ketidak baikan dan kerugian. Maka dari itu merasa bertanggung jawab lah karena alam adalah rumah kita bersama.
#salam_lesatari
#bukanpendaki






Nice Post Kak Jaya ★★
ReplyDeleteiye makasi
Delete